SITUBONDO – Perjuangan panjang Rifa'i, putra pasangan buruh tani asal Desa Klatakan, Kabupaten Situbondo, JawaTimur, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih cita-cita.
Berkat kerja keras dan beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Situbondo, Rifa'i berhasil menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,93.
Kabar kelulusan itu disampaikan langsung Rifa'i kepada Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, saat berkunjung ke ruang kerja bupati didampingi Prof. Saleh pada Senin (29/6/2026).
Rifa'i mengaku tidak pernah membayangkan dapat menyelesaikan pendidikan kedokteran tanpa dukungan beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Situbondo. Menurutnya, bantuan tersebut menjadi jalan bagi dirinya untuk mewujudkan cita-cita menjadi seorang dokter.
"Saya sangat bersyukur mendapat beasiswa dari Pemkab Situbondo. Tanpa bantuan itu, mungkin akan sangat sulit bagi saya menyelesaikan pendidikan kedokteran. Terima kasih kepada pemerintah dan seluruh masyarakat Situbondo yang telah mempercayai saya," ujar Rifa'i.
Ia menegaskan, sebagai bentuk tanggung jawab atas amanah yang diberikan, dirinya siap kembali mengabdi di Kabupaten Situbondo setelah menyelesaikan program internship.
"Saya siap mengabdikan ilmu yang saya peroleh untuk masyarakat Situbondo. Ini adalah daerah tempat saya dibesarkan, sehingga sudah menjadi komitmen saya untuk kembali dan memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik," katanya.
Rifa'i mengaku perjalanan selama menempuh pendidikan tidak selalu mudah. Selain harus beradaptasi dengan tuntutan perkuliahan di Fakultas Kedokteran, ia juga terus mengingat perjuangan kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani demi memenuhi kebutuhan keluarga. Hal itu menjadi motivasi terbesar baginya untuk menyelesaikan studi dengan hasil terbaik.
Ia berharap kisahnya dapat membangkitkan semangat generasi muda Situbondo yang berasal dari keluarga sederhana. Menurutnya, keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.
"Jangan pernah takut bercita-cita tinggi. Kalau kita mau berusaha dan memanfaatkan kesempatan, termasuk program beasiswa dari pemerintah, insyaallah jalan itu akan terbuka. Saya berharap semakin banyak putra-putri Situbondo yang bisa kuliah dan nantinya kembali membangun daerah kita," tuturnya.
Sementara itu bagi Bupati yang akrab disapa Mas Rio, bukan sekadar IPK tinggi yang membuatnya bangga. Yang paling penting adalah komitmen Rifa'i untuk pulang dan mengabdi kepada daerah.
"Dia datang ke sini untuk menyampaikan kepada saya bahwa dia sudah lulus dan siap mengabdi. Nah, itu poin paling penting," kata Mas Rio.
Bupati meminta Rifa'i segera menjalani program internship atau magang di rumah sakit di Situbondo agar dapat segera melayani masyarakat.
Menurut Mas Rio, keberhasilan Rifa'i merupakan buah dari kerja keras sekaligus dukungan program beasiswa daerah yang dibiayai dari uang rakyat. Karena itu, ia berpesan agar ilmu yang dimiliki selalu digunakan dengan hati.
"Rifa'i bisa menjadi dokter itu karena uang rakyat. Maka selalu layani pakai hati dan ingat Situbondo terus. Harus menjadi dokter yang hebat di Situbondo," pesannya.
Rifa'i lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani atau tukang arit, sedangkan ibunya menjadi buruh yang membersihkan tanaman tebu. Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk menempuh pendidikan hingga menjadi dokter.
Mas Rio berharap kisah Rifa'i menjadi inspirasi bagi anak-anak muda Situbondo agar berani bermimpi besar dan memanfaatkan kesempatan melalui program beasiswa.
Pemerintah daerah pun berharap semakin banyak putra-putri daerah yang kembali mengabdikan ilmu dan keahliannya untuk membangun Situbondo.[]